Pada 2024-2025, pengembangan industri telah diarahkan pada produksi bahan antara lain seperti nikel sulfate dan cobalt sulfate.
Selanjutnya, pada periode 2026-2030, industri mulai diarahkan untuk memproduksi material katoda dan anoda yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik.
"Ini juga sudah ada pabrik baterai yang sudah menyiapkan katoda dan anoda material, bahkan menyusun katoda dan anoda untuk baterai listrik sendiri langsung digunakan untuk baterai listrik," ujarnya.
Penguatan industri baterai dari hulu hingga hilir diharapkan membuat rantai pasok kendaraan listrik semakin terintegrasi di dalam negeri.
Dengan demikian, peningkatan TKDN tidak hanya bergantung pada proses perakitan kendaraan, tetapi juga ditopang produksi komponen utama.
Di sisi lain, perkembangan industri kendaraan listrik nasional terus menunjukkan peningkatan.
Hingga Agustus 2026, populasi kendaraan listrik dari berbagai jenis telah mencapai lebih dari 541.000 unit.
Pertumbuhan tersebut juga diikuti investasi yang mencapai Rp 30,4 triliun dan penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 10.650 orang.
"Total investasi Rp 30,4 triliun tergabung mulai dari bus dan truk, kendaraan roda empat, roda dua dan roda tiga, tenaga kerja yang terlibat langsung 10.650 orang," tegas dia.