GridOto.com - Persaingan teknologi elektrifikasi di pasar mobil Indonesia semakin ramai.
Bukan hanya menghadirkan model baru, masing-masing pabrikan juga membawa istilah teknologi andalannya sendiri sehingga berpotensi membuat konsumen kebingungan.
Padahal, jika mengacu pada klasifikasi resmi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), kategori teknologi sebenarnya jauh lebih sederhana.
GAIKINDO hanya mengenal empat kelompok utama, yakni kendaraan bermesin konvensional (gasoline), Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).
Di lapangan, penyebutannya justru semakin beragam, salah satunya terjadi di kelas PHEV.
Chery menggunakan nama Chery Super Hybrid (CSH), Jaecoo memperkenalkan Super Hybrid System (SHS), Geely memakai Electric Module Intelligent (EM-i).
Lalu BYD mengusung Dual Mode (DM), Jetour hadir dengan Intelligent Dual Mode
(i-DM), sementara DFSK menyebut teknologinya Smart Power System DE-i.
Meski berbeda nama, teknologi tersebut pada dasarnya masuk dalam kategori Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) berdasarkan klasifikasi GAIKINDO.
Fenomena ini muncul seiring agresivitas merek, khususnya pabrikan asal Cina, yang berlomba menghadirkan model elektrifikasi baru di Indonesia.
Chery membawa Tiggo 8 CSH dan Tiggo 9 CSH, Jaecoo menghadirkan J7 SHS serta J8 SHS, Geely menawarkan Starray EM-i, BYD dengan M6 DM, Jetour melalui T1 i-DM, hingga DFSK E5 Plus dengan sistem DE-i.
Baca Juga: Wholesales Mobil PHEV Periode Januari Mei 2026 Naik 4 Kali Lipat
Perbedaan istilah tersebut sejatinya lebih banyak berkaitan dengan strategi pemasaran masing-masing merek.
Secara prinsip, mobil PHEV tetap menggabungkan mesin bensin dan motor listrik, memiliki baterai berkapasitas lebih besar dibanding hybrid konvensional, serta dapat diisi ulang melalui pengisian daya eksternal menggunakan soket charger.
Berkat kapasitas baterai yang lebih besar, PHEV mampu melaju menggunakan tenaga listrik murni dengan jarak yang jauh lebih panjang dibandingkan HEV.
Saat baterai mulai berkurang, pengisian daya tidak hanya bisa dilakukan melalui charger eksternal, tetapi juga berasal dari kerja mesin sebagai generator maupun sistem regenerative braking ketika kendaraan melambat atau mengerem.
Bukan hanya pada PHEV, perbedaan penamaan teknologi juga terjadi di segmen HEV.
Suzuki menggunakan istilah Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS) untuk teknologi mild hybrid, Toyota mengenalkan Toyota Hybrid System (THS), sementara Honda memakai e:HEV.
Nissan dan Daihatsu yang masing-masing memiliki e-POWER dan e-Smart Hybrid, yakni sistem hybrid dengan roda sepenuhnya digerakkan motor listrik, sedangkan mesin bensin berfungsi sebagai pembangkit listrik.
Di sisi lain, mulai muncul pula teknologi Range Extender Electric Vehicle (REEV) yang dikenalkan pada model Changan Deepal S05 dan iCAR V27.
REEV kerap dianggap sama dengan PHEV karena sama-sama menggunakan mesin bensin, motor listrik, dan dapat diisi ulang melalui charger eksternal.
Padahal, konsep kerja keduanya berbeda.
REEV menggunakan skema series hybrid, di mana roda hanya digerakkan oleh motor listrik.
Mesin bensin tidak pernah terhubung langsung dengan roda dan hanya berfungsi sebagai pembangkit listrik untuk mengisi baterai ketika diperlukan.
Sementara pada PHEV yang umum digunakan saat ini, mesin bensin dan motor listrik sama-sama dapat menjadi sumber penggerak kendaraan melalui sistem parallel hybrid.
Perbedaan konsep tersebut membuat karakter berkendara REEV terasa lebih menyerupai mobil listrik murni karena seluruh akselerasi berasal dari motor listrik, sedangkan mesin hanya bertugas menjaga suplai energi baterai.
Meski teknologi yang dibawa pabrikan terus berkembang dan nama sistemnya semakin beragam, klasifikasi resmi GAIKINDO tetap mengelompokkannya ke dalam kategori HEV atau PHEV sesuai sistem penggeraknya.
Karena itu, konsumen perlu memahami bahwa nama teknologi yang dipromosikan masing-masing merek belum tentu menunjukkan kategori kendaraan yang berbeda.