Berkat kapasitas baterai yang lebih besar, PHEV mampu melaju menggunakan tenaga listrik murni dengan jarak yang jauh lebih panjang dibandingkan HEV.
Saat baterai mulai berkurang, pengisian daya tidak hanya bisa dilakukan melalui charger eksternal, tetapi juga berasal dari kerja mesin sebagai generator maupun sistem regenerative braking ketika kendaraan melambat atau mengerem.
Bukan hanya pada PHEV, perbedaan penamaan teknologi juga terjadi di segmen HEV.
Suzuki menggunakan istilah Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS) untuk teknologi mild hybrid, Toyota mengenalkan Toyota Hybrid System (THS), sementara Honda memakai e:HEV.
Nissan dan Daihatsu yang masing-masing memiliki e-POWER dan e-Smart Hybrid, yakni sistem hybrid dengan roda sepenuhnya digerakkan motor listrik, sedangkan mesin bensin berfungsi sebagai pembangkit listrik.
Di sisi lain, mulai muncul pula teknologi Range Extender Electric Vehicle (REEV) yang dikenalkan pada model Changan Deepal S05 dan iCAR V27.
REEV kerap dianggap sama dengan PHEV karena sama-sama menggunakan mesin bensin, motor listrik, dan dapat diisi ulang melalui charger eksternal.
Padahal, konsep kerja keduanya berbeda.
REEV menggunakan skema series hybrid, di mana roda hanya digerakkan oleh motor listrik.
Mesin bensin tidak pernah terhubung langsung dengan roda dan hanya berfungsi sebagai pembangkit listrik untuk mengisi baterai ketika diperlukan.
Sementara pada PHEV yang umum digunakan saat ini, mesin bensin dan motor listrik sama-sama dapat menjadi sumber penggerak kendaraan melalui sistem parallel hybrid.
Perbedaan konsep tersebut membuat karakter berkendara REEV terasa lebih menyerupai mobil listrik murni karena seluruh akselerasi berasal dari motor listrik, sedangkan mesin hanya bertugas menjaga suplai energi baterai.
Meski teknologi yang dibawa pabrikan terus berkembang dan nama sistemnya semakin beragam, klasifikasi resmi GAIKINDO tetap mengelompokkannya ke dalam kategori HEV atau PHEV sesuai sistem penggeraknya.