Tampang Mirip, Ini Saudara Honda CB yang Mesinnya Lebih Tangguh Meski Telat Ganti Oli

By Selasa, 21 Juli 2026 | 20:05 WIB

Honda CG series sepat beredar di Indonesia di era 1973-an (IG: @honda_cg_indonesia / @rendhikadian)

GridOto.com - Bagi para pencinta motor klasik nama besar Honda CB tentu sangat melegenda dan tidak asing lagi di telinga.

Namun, pabrikan berlogo sayap mengepak ternyata pernah merilis saudara kembar dari keluarga CB yang penampilannya sekilas sangat mirip, ia adalah Honda CG.

Jika disandingkan secara visual, orang awam pasti akan kesulitan membedakan keduanya karena desain bodi, tangki, hingga perawakan Honda CG memang bak pinang dibelah dua dengan Honda CB.

Meskipun wujudnya sangat identik, ada perbedaan mendasar yang membuat kedua motor ini dipisahkan secara nama, dan itu tersembunyi di balik blok mesinnya.

Honda CB mengadopsi konstruksi mesin Over Head Camshaft (OHC) yang umum dipakai pada sepeda motor modern saat ini, di mana rantai keteng digunakan untuk menggerakkan noken as di bagian head silinder.

Brosur lawas Honda CG125 (Honda)

Sementara itu, Honda CG hadir dengan inovasi mesin yang sangat unik di zamannya, yakni menggunakan teknologi Over Head Valve (OHV) dengan mekanisme push rod tanpa rantai keteng sama sekali.

Pada mesin CG, posisi noken as diletakkan di area bawah silinder, bukan di bagian atas seperti mesin OHC pada umumnya.

Perbedaan mekanisme mesin inilah yang membuat Honda CG dikenal jauh lebih tahan banting ketimbang Honda CB.

Baca Juga: Honda CB Legendaris Bermesin 4-Silinder Muncul Kembali, Fiturnya Kini Serba Canggih

Dari sejarah kelahirannya di era 1970-an, Honda memang sengaja merancang seri CG untuk dipasarkan di negara-negara berkembang yang infrastrukturnya masih terbatas.

Salah satu negara tujuan utamanya kala itu adalah Brasil, tempat di mana pasokan oli mesin sangat langka di daerah pelosok.

Karena ketiadaan rantai keteng serta penggunaan sistem push rod, mesin OHV milik Honda CG relatif jauh lebih aman dan tidak mudah rusak meskipun pemiliknya sering teledor atau telat melakukan penggantian oli berkala.

Kondisi ini sangat berbeda dengan mesin OHC milik Honda CB yang bagian bearing noken as-nya sangat rawan oblak dan aus jika sampai kehabisan atau terlambat diganti olinya.

Di Indonesia sendiri, kiprah Honda CG dimulai ketika tipe CG100 resmi masuk pada tahun 1973, yang kemudian disusul oleh varian CG125 pada tahun 1975.

Meskipun ketenarannya di pasar lokal saat itu kalah pamor dibanding saudara kembarnya Honda CB, eksistensi Honda CG di mancanegara justru sangat luar biasa.

Di negara seperti Pakistan misalnya, unit Honda CG125 baru bahkan masih terus diproduksi dan dijual hingga saat ini dengan sejumlah penyegaran fitur modern.

Varian lain, Honda CG125S (atlashonda.com)

Uniknya, ia tetap setia mempertahankan ketangguhan mesin OHV bawaannya.

Untuk pasar Pakistan, unit gres motor pekerja keras bernuansa klasik ini dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni sekitar 292.900 Rupee Pakistan atau jika dikonversikan setara dengan Rp 17 jutaan saja.