Karena ketiadaan rantai keteng serta penggunaan sistem push rod, mesin OHV milik Honda CG relatif jauh lebih aman dan tidak mudah rusak meskipun pemiliknya sering teledor atau telat melakukan penggantian oli berkala.
Kondisi ini sangat berbeda dengan mesin OHC milik Honda CB yang bagian bearing noken as-nya sangat rawan oblak dan aus jika sampai kehabisan atau terlambat diganti olinya.
Di Indonesia sendiri, kiprah Honda CG dimulai ketika tipe CG100 resmi masuk pada tahun 1973, yang kemudian disusul oleh varian CG125 pada tahun 1975.
Meskipun ketenarannya di pasar lokal saat itu kalah pamor dibanding saudara kembarnya Honda CB, eksistensi Honda CG di mancanegara justru sangat luar biasa.
Di negara seperti Pakistan misalnya, unit Honda CG125 baru bahkan masih terus diproduksi dan dijual hingga saat ini dengan sejumlah penyegaran fitur modern.
Uniknya, ia tetap setia mempertahankan ketangguhan mesin OHV bawaannya.
Untuk pasar Pakistan, unit gres motor pekerja keras bernuansa klasik ini dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni sekitar 292.900 Rupee Pakistan atau jika dikonversikan setara dengan Rp 17 jutaan saja.