Mobil Keyless Bisa Dibobol Relay Attack, Tapi Ahli Kunci Sebut Maling di Indonesia Belum Mampu

By , Selasa, 21 Juli 2026 | 14:15 WIB

Ilustrasi pencurian mobil keyless dengan alat relay attack (Gemini AI)

GridOto.com - Waspada dengan aksi pembobolan mobil keyless memakai alat 'Relay Attack'.

Cara ini memanfaatkan perangkat khusus untuk menangkap dan meneruskan sinyal dari smart key ke mobil, sehingga kendaraan mengira kunci berada di dekatnya.

Akibatnya, pintu dapat terbuka dan mesin bisa dinyalakan tanpa harus merusak kunci.

Tapi tenang, ahli kunci sebut maling di Indonesia belum pada mampu.

Pemilik Komandan Key Raymond Lie mengatakan, relay attack memang ada dan sudah dikenal di sejumlah negara.

Namun menurut dia, kasus tersebut belum menjadi ancaman yang umum terjadi di Indonesia.

Raymond menjelaskan, sistem keyless bekerja dengan memancarkan sinyal antara smart key dan kendaraan.

Dalam kondisi tertentu, sinyal tersebut memang dapat ditangkap menggunakan perangkat khusus.

Meski demikian, ia menilai alat untuk melakukan relay attack tidak mudah diperoleh.

"Memang ada alat yang bisa seperti itu. Cuma tidak dijual bebas dan harganya sangat mahal. Jadi kalau menurut saya maling di sini (Indonesia,-red) belum (menggunakan relay attack) ya. Kalau di luar emang sudah," ujar Raymond, saat ditemui di Jakarta Utara, (14/7/26) melansir Kompas.com.

Baca Juga: Motor Berfitur Smart Key Atau Keyless Tak Aman Lagi, Polda Jatim Ungkap Cara Pencuri Membobolnya

Ilustrasi. Sistem smart keyless entry pada Chevrolet Trax (Fikri Wahyudi)

Selain relay attack, Raymond juga menjelaskan ada metode lain yang memanfaatkan sinyal remote, yakni dengan merekam kode yang dipancarkan saat tombol remote ditekan.

Cara ini umumnya menyasar remote yang masih menggunakan sistem keamanan sederhana.

"Jadi paling simpel itu biasanya justru karena keyless memancarkan sinyal. Jadi ketika kita mau pencet, itu ada alat dari jauh. Itu bisa," beber Raymond.

Menurut dia, secara umum terdapat tiga jenis sistem kode pada remote kendaraan, yaitu fixed code, rolling code dan encrypted code.

Raymond mengatakan, remote dengan sistem fixed code menjadi yang paling mudah dibajak karena selalu mengirimkan data yang sama setiap kali tombol ditekan.

"Biasanya paling bisa ditembak itu yang data fiks," terangnya.

Sebaliknya, remote yang menggunakan rolling code maupun encrypted code memiliki tingkat keamanan lebih tinggi karena kode yang dikirim akan terus berubah atau sudah terenkripsi.

Ia mencontohkan sistem keamanan yang digunakan merek alarm kendaraan Clifford.

"Makanya zaman dulu ada Clifford, remot Clifford itu anti dibajak. Karena data mereka antara rolling atau encrypted. Jadi enggak bisa dibajak," ujar Raymond.

Karena itu, ia mengimbau pemilik kendaraan tidak sembarangan menggunakan remote aksesori dengan sistem keamanan yang belum jelas.

Remote yang masih menggunakan fixed code dinilai lebih rentan terhadap upaya pembajakan sinyal dibandingkan sistem rolling code atau encrypted yang kini banyak digunakan pada kendaraan modern.