Laporan Utama: Tahan Kenaikan Harga Mobil Baru

By Saturday, 18 July 2026 | 10:00 WIB

Pameran otomotif (Gaikindo)

GridOto.com - Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan yang signifikan pada industri otomotif nasional. Penyebabnya, industri memiliki rantai pasok kompleks dan global.

Efek lanjutan lonjakan dolar AS yang mencapai Rp 17.500 (Mei 2026) meningkatnya biaya produksi dan membuat tekanan pada harga jual kendaraan.

Meskipun banyak pabrikan lokal dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi, industri otomotif masih bergantung pada impor bahan baku, komponen tertentu terkait elektronik dan transaksi berbasis dolar AS.

Dampak ini dirasakan secara berantai dari supplier tingkat bawah hingga ke pabrikan perakitan. Saat biaya produksi membengkak, pabrikan dihadapkan pilihan sulit.

Jika pelemahan rupiah berlangsung lama, penyesuaian harga jual kendaraan menjadi tidak terhindarkan.

Terlebih bagi mobil impor secara utuh atau completely built-up (CBU). Atau kendaraan yang TKDN-nya sangat rendah. Mereka paling rentan mengalami kenaikan harga lebih cepat.

Bagaimana pabrikan kendaraan di Indonesia menyiasati kondisi yang sedang tidak baik-baik saja ini. Berikut laporannya. (Wisnu, Naufal, Hend)

TAHAN HARGA SAMBIL PANTAU SIKON

Produsen kendaraan roda empat mencermati serius kondisi pelemahan rupiah terhadap dolar.

Baca Juga: Nilai Tukar Dollar Melejit, Toyota Lakukan Penyesuaian Harga Mobil Baru?

Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Bansar Maduma, mengatakan pihaknya terus memantau kondisi pasar dan berupaya semaksimal mungkin agar dampak kenaikan kurs tidak dibebankan langsung kepada konsumen.

"Namun yang pasti kami selalu monitor adalah bagaimana customer kami. Kita tidak mau bahwa ini semua dibebankan oleh customer," ujar Bansar.

Menurutnya, menjaga kepercayaan pelanggan menjadi prioritas utama Toyota.