GridOto.com - Brand Ambassador Mitsubishi Motors Indonesia, Rifat Sungkar, membagikan hasil pengujian efisiensi bahan bakar Mitsubishi New Xforce HEV yang dilakukan dalam perjalanan jarak jauh dari Jakarta menuju Bali.
Dalam pengujian tersebut, SUV hybrid terbaru Mitsubishi itu diklaim mampu menempuh jarak hingga 1.172 kilometer hanya dengan sekali pengisian penuh bahan bakar.
Rifat menjelaskan, pengujian dilakukan secara langsung dengan rute Jakarta-Bali dan kecepatan rata-rata sekitar 70-80 km/jam.
Bahkan, tes tersebut dilakukan sebanyak dua kali untuk memastikan hasil yang diperoleh konsisten.
"Perjalanan dari Jakarta ke Bali kami tempuh 25 jam. Saya lakukan ini dua kali karena kami membutuhkan data yang benar-benar akurat," ujar Rifat di Karawang, Jawa Barat, Jum'at (17/7/2026).
Menurutnya, saat memasuki wilayah Banyuwangi indikator bahan bakar sudah hanya menyisakan satu bar.
Setelah menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk, indikator bahan bakar bahkan sudah berkedip sebagai tanda BBM hampir habis.
Saat itu odometer sudah menunjukkan jarak sekitar 1.020 kilometer. Namun, perjalanan tetap dilanjutkan hingga Bali Barat dan angka odometer bertambah menjadi sekitar 1.057 kilometer.
Rifat mengaku awalnya mengira perjalanan akan berakhir setelah berhenti makan siang.
Baca Juga: Mitsubishi XForce HEV Dibekali Electric Shifter, Ini Fungsinya
Namun, ketika mesin kembali dinyalakan, Mitsubishi New Xforce HEV masih dapat beroperasi dengan normal.
Perjalanan pun kembali dilanjutkan hingga akhirnya kendaraan benar-benar berhenti akibat kehabisan bahan bakar pada malam hari.
"Mobil baru mati sekitar jam 7 malam. Total jarak yang kami tempuh mencapai 1.172 kilometer sampai akhirnya mobil berhenti total," jelasnya.
Menurut Rifat, hasil tersebut menunjukkan teknologi hybrid memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi konsumsi bahan bakar, terutama dalam perjalanan jarak jauh.
Ia juga menyoroti sistem hybrid Mitsubishi yang dinilai mampu mempertahankan penggunaan mode EV pada berbagai kondisi kecepatan sehingga membantu meningkatkan efisiensi.
"Yang menguntungkan adalah saat melaju dengan kecepatan cukup tinggi pun mobil masih memprioritaskan EV mode. Itu yang membuat konsumsi bahan bakarnya sangat efisien," ungkapnya.
Meski demikian, Rifat menegaskan hasil pengujian tersebut tidak bisa dijadikan patokan mutlak untuk semua kondisi penggunaan.
Menurutnya, pengujian kendaraan sebaiknya dilakukan dengan metode yang sama, mulai dari kondisi jalan, gaya berkendara hingga kendaraan pembanding agar hasilnya lebih objektif.
"Kami juga membawa dua mobil saat pengujian. Hasilnya tidak berbeda jauh, sehingga data yang kami dapat lebih bisa dipertanggungjawabkan," tutup Rifat.