Geger Pelecehan Oleh Kru Bus MTrans ke Penumpang Wanita, Korban Diklaim Lebih Dari Satu

By , Jumat, 17 Juli 2026 | 09:30 WIB

Bus MTrans rute Malang-Denpasar (Dok. MTrans Malang)

GridOto.com - Geger kru bus MTrans diduga melakukan pelecehan terhadap penumpang wanita.

Kasus ini ramai setelah salah satu korban berinisial R (24) menceritakannya di akun Threads @r.linzhao beberapa waktu terakhir.

Dalam postingannya, ia menceritakan kasus itu bermula ketika dirinya menaiki bus MTrans tujuan dari Malang menuju Denpasar pada 12 Juli 2026.

"Jujur aku gak pernah nyangka perjalanan Malang–Denpasar yang harusnya jadi perjalanan biasa malah jadi trauma buat aku. Awalnya aku sama sekali gak ada niat buat viral, niatku cuma satu, lapor ke perusahaan supaya kejadian ini ditindaklanjuti," tulis akun Threads @r.linzhao.

Saat itu, korban sengaja memilih kursi 7C karena sebelumnya ia sempat bertanya kepada petugas loket mengenai kursi mana yang diisi oleh sesama penumpang wanita.

Alih-alih mendapatkan kursi yang sebelahan dengan penumpang wanita, korban justru duduk seorang diri.

Kursi di sebelahnya kosong, tanpa penumpang.

Perjalanan yang dimulai pukul 19.20 WIB itu berjalan lancar hingga pertengahan jalan tiba-tiba, seseorang yang mengaku kru bus mengirimkan pesan singkat kepada korban.

Dalam pesan tersebut, kru itu menawarkan untuk membenarkan posisi kursi ke arah belakang, agar tidak mengganggu posisi tidur.

"Aku nunggu tapi dia gak datang-datang, akhirnya aku ketiduran lagi dengan posisi badan miring dan seluruh tubuh ketutup selimut dari kepala sampai kaki," tulisnya.

Baca Juga: Kru Bus Pariwisata Ini Terancam Denda Rp 5 Miliar, Perkara Rutin Telan Pil Mungil Berlogo Y

Unggahan korban pelecehan oleh kru bus MTrans saat naik rute Malang-Denpasar yang menampilkan diduga pelaku pelecehan dirinya (Threads @r.linzhao)

Sesaat setelah korban tertidur pulas, ia mendadak terbangun saat ada seseorang menepuk tubuhnya.

Orang yang menepuk tersebut adalah seorang kru bus.

R pun bergeser karena mengira kru bus tersebut mencoba membenarkan posisi kursi agar bisa lebih nyaman.

Namun, bukan seperti itu yang terjadi. Kru bus tersebut tiba-tiba duduk di kursi kosong sebelah korban dan langsung mengambil selimut yang digunakan korban dan mulai melakukan tindakan di luar batas privasi.

Korban dalam ceritanya, mengaku rambutnya dibelai oleh kru tersebut dan bilang kepada R bahwa rambutnya berantakan.

"Refleks aku langsung nepis tangannya karena sudah ngerasa gak nyaman. Habis itu dia bilang, 'bobo sini,' sambil nunjuk bahunya." kata dia.

"Aku langsung nolak dan bilang gak mau. Tapi bukannya berhenti, dia malah narik kepalaku ke arah bahunya. Aku langsung menghindar," imbuhnya.

Tak berhenti di sana, korban kembali menerima pesan singkat dari kru bus yang berisikan tentang pesan privasi yang tidak seharusnya disampaikan oleh kru bus dalam memberikan pelayanan di transportasi umum.

"Kenapa aku tidak teriak, jawabannya sederhana, kejadian itu tengah malam sampai terang, aku sendiri dan bus lagi jalan, aku capek banget dan aku gak tahu dia bakal bereaksi apa kalau aku melawan. Jadi yang aku lakukan cuma bertahan sampai tujuan, kemudian lapor," jelasnya.

Begitu bus tiba di terminal tujuan yakni Denpasar, Bali, (12/7/27), R bergegas mendatangi kantor MTrans Bali untuk membuat laporan resmi.

Baca Juga: Jelang Mudik Lebaran PO MTrans Belanja 26 Unit Sasis Premium Ini

Menanggapi kasus tersebut, pihak MTrans membenarkan adanya laporan yang disampaikan oleh korban.

Diketahui, kru tersebut berinisial AM yang bertugas sebagai Helper.

HRD MTrans Malang, Jhony Sasongko, mengatakan, laporan dari pelanggan yang mengalami kejadian tidak mengenakan sedang diproses oleh pihak manajemen.

"(Korban) masih mediasi dengan operasional kami di lapangan," ujar Jhony, (15/7/26) mengutip Kompas.com.

Update terbaru, manajemen MTrans Malang telah resmi memecat kru bus berinisial AM tersebut.

Keputusan memberhentikan itu diambil setelah perusahaan menerima laporan dari korban dan melakukan klarifikasi terhadap pihak-pihak terkait.

Jhony mengatakan perusahaan tidak memberikan toleransi pada setiap bentuk pelanggaran etika kerja maupun standar operasional prosedur (SOP), terutama yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan keamanan penumpang.

"Untuk perihal ini benar, sebagai Mitra kerja kami dan saat kejadian tanggal 12 Juli 2026 lalu, sudah langsung kami putus hubungan kerja dengan mitra kerja helper tersebut," beber Jhony.

Jhony menjelaskan, dugaan pelecehan itu terjadi saat bus memasuki wilayah Denpasar, Bali.

Karena lokasi kejadian berada di bawah koordinasi kantor cabang Denpasar, manajemen terlebih dahulu berkoordinasi dengan kantor cabang sebelum penanganan kasus diambil alih oleh kantor pusat di Malang.

Baca Juga: Anggota Polantas Kupang Dipecat Tidak Hormat, Tilang Siswi SMK Sembari Lakukan Pelecehan

Selain menjatuhkan sanksi pemutusan hubungan kerja terhadap AM, MTrans juga terus berkomunikasi dengan korban untuk memastikan proses penanganan berjalan dengan baik.

Saat ini, menurut Jhony, korban masih berkoordinasi dengan tim operasional MTrans terkait langkah yang akan ditempuh, termasuk kemungkinan membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

"(Korban) masih mediasi dengan operasional kami dilapangan," ujarnya.

Jhony menambahkan perusahaan menghormati apa pun keputusan korban, termasuk apabila memilih melaporkan kasus tersebut kepada pihak Kepolisian.

"Kami mendukung jika memang akan di laporkan ke tahap selanjutnya, karena dari kami sudah memberikan sanksi tegas dengan memutus hubungan kerja yang bersangkutan," jelasnya.

Sementara itu, dari pengakuan korban R, ternyata bukan hanya dirinya yang menjadi korban pelecehan tersebut.

Setelah kasus tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, sejumlah wanita disebut menghubungi korban dan mengaku pernah mengalami kejadian serupa dengan terduga pelaku yang sama.

Korban R mengungkapkan hal itu melalui unggahan di akun Threads miliknya, @r.linzhao.

"Dan itu bukan cuma satu orang. Ada beberapa perempuan lain yang juga menghubungiku dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing. Jujur, setelah baca satu per satu chat itu, aku makin yakin buat enggak diam," tulis R dalam unggahannya.

Terkait ini, Jhony sekali lagi mengatakan perusahaan mempersilakan siapa pun yang merasa menjadi korban untuk melapor kepada aparat penegak hukum.

Menurut dia, AM sudah tidak lagi bekerja sama dengan MTrans setelah perusahaan memutus hubungan kerja usai menerima laporan dugaan pelecehan.

"Untuk korban oknum yang sama kami persilakan melaporkan yang bersangkutan ke proses selanjutnya karena kami MTrans sudah memutus hubungan kerja dengan mitra kerja tersebut. Yang bersangkutan sudah bukan menjadi bagian dari kami," tegas Jhony, (15/7/26) melansir Kompas.com.