GridOto.com - Sebanyak 57 persen SPBU Pertamina kini sudah menjuual Biodiesel B50.
Berdasar data Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM jumlah SPBU Pertamina sebanyak 13.603 unit pada kuartal I 2025.
B50 sendiri adalah bahan bakar minyak (BBM) hasil pencampuran 50 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar.
"Pertamina sudah melaporkan 57 persen (SPBU) sudah tersalurkan (B50)," ujar Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).
Melansir Kompas.com, ia menuturkan, seiring mulai diterapkannya mandatori B50 pada awal Juni 2026, penyalurannya terus diperluas selama masa transisi dari B40.
Targetnya, penerapan penuh B50 berlaku pada 1 Oktober 2026.
Masa transisi tiga bulan tersebut diperlukan agar badan usaha memiliki waktu menghabiskan stok B40, sekaligus menyesuaikan proses pencampuran (blending) ke B50.
"Pertamina perlu sekitar dua bulan menyelesaikan stok B40, dan untuk 34 badan usaha lainnya yang melakukan blending memerlukan waktu sekitar tiga bulan," jelasnya.
Baca Juga: Resmi Diluncurkan, BBM Biodiesel B50 Mulai Berlaku Nasional
Lebih lanjut, ia menyatakan, penyebaran B50 saat ini tidak terbatas di Jakarta.
Wilayah Pulau Jawa menjadi area yang paling luas menerima distribusi, disusul Sumatra dan sebagian Sulawesi.
"Jadi sudah lebih luas. Jawa sudah, Sumatra, terus sebagian Sulawesi ada, jadi mulai menyebar," kata Eniya.
Dia menambahkan, kebutuhan FAME untuk program B50 pada 2026 diperkirakan berkisar 16,7 juta-18 juta kiloliter (KL).
Menurutnya, angka itu masih menggunakan rentang karena pemerintah perlu menyesuaikan dengan perkembangan konsumsi bahan bakar di lapangan, termasuk pengaruh kebijakan seperti work from home (WFH) dan kondisi stok nasional.
"Dengan adanya B50 ini kan pasti tambah produksi, tapi kita hitungannya adalah 16,7-18 juta KL. Kita tulis dalam bentuk rentang karena bergerak terus angkanya menyesuaikan situasi," pungkas Eniya.