Kawasan tersebut sebelumnya dikenal sangat terbatas aksesnya bagi wisatawan asing dan hanya dapat dikunjungi dengan izin khusus.
Menurut informasi dari pemandu resmi Tibet, besar kemungkinan Rial Hamzah dan Adet Vriono menjadi rider Indonesia pertama yang mencapai kawasan glacier tersebut menggunakan sepeda motor berpelat Indonesia.
Ekspedisi ini juga menjadi simbol kolaborasi positif antara rider Indonesia dan Malaysia yang tergabung dalam satu rombongan untuk memenuhi berbagai persyaratan masuk ke Tibet menggunakan kendaraan asing.
Sebanyak 11 rider Malaysia ikut bergabung dalam perjalanan yang membutuhkan proses perizinan dan persiapan administrasi selama berbulan-bulan.
Di balik medan berat dan cuaca ekstrem, tantangan terbesar ternyata bukan hanya soal kondisi jalan melainkan menjaga fisik dan mental selama berminggu-minggu di lingkungan minim oksigen.
“Perjalanan ini mengajarkan bahwa konsistensi, kesabaran, dan kerja sama tim jauh lebih penting daripada kecepatan,” kata Adet Vriono.
Setelah meninggalkan dataran tinggi Tibet dan memasuki wilayah Sichuan, tim ekspedisi juga melaksanakan ibadah qurban bersama para rider Malaysia di Chengdu, China.
Momen tersebut menjadi pengalaman spiritual yang berkesan karena dilakukan setelah menyelesaikan perjalanan panjang dari salah satu kawasan tertinggi dan paling terpencil di muka bumi.
Keberhasilan ekspedisi ini semakin istimewa karena seluruh sepeda motor yang digunakan mampu menyelesaikan perjalanan ribuan kilometer tanpa mengalami kerusakan mayor maupun kendala teknis yang menghambat perjalanan.
Saat ini Rial Hamzah dan Adet Vriono masih melanjutkan perjalanan pulang melalui Laos, Thailand, dan Malaysia sebelum akhirnya kembali ke Indonesia sambil membawa pesan bahwa rider Tanah Air mampu tampil profesional dan kompetitif di panggung touring internasional.