- Material Elektrostatik: Menggunakan muatan listrik statis untuk menarik partikel lebih halus agar tidak lolos ke dalam sistem sirkulasi.
Mayoritas mobil di Indonesia, termasuk milik Suzuki menggunakan filter AC bermaterial kertas atau serat non-woven.
Jenis ini dipilih karena memiliki keunggulan bobot ringan, daya saring rapat, durabilitas baik, serta lebih efisien secara biaya perawatan.
Baca Juga: Gak Hanya Bau Apek, Ini Efek Samping Filter AC Mobil Bekas Jarang Dibersihkan
Seiring meningkatnya polusi udara dan volume debu saat musim kemarau, pemilik mobil perlu melakukan pengecekan filter AC setiap interval 5.000 hingga 10.000 km, atau lebih cepat apabila sering beroperasi di area proyek dan jalanan berdebu.
Gejala kejenuhan filter mulai terasa melalui hembusan angin AC yang melemah meski kipas berada pada posisi maksimal, munculnya aroma debu saat AC pertama kali menyala, serta kaca mobil yang mudah berembun saat hujan akibat sirkulasi udara kurang lancar.
Efek buruk mengabaikan kondisi filter AC mobil:
- Kerusakan Evaporator: Debu yang lolos akan menempel pada evaporator yang lembab dan berubah menjadi lumpur.
Kondisi ini memicu korosi hingga kebocoran, dimana biaya perbaikannya jauh lebih tinggi dibandingkan harga penggantian filter.
- Beban Kompresor Meningkat: Karena sirkulasi udara terhambat, suhu dingin sulit tercapai sehingga kompresor harus bekerja terus-menerus tanpa henti, berujung pada pemborosan konsumsi bahan bakar.
- Risiko Kesehatan Penumpang: Filter AC yang kotor menjadi sarang pertumbuhan bakteri dan jamur dapat memicu reaksi alergi, bersin, hingga gangguan pernapasan bagi penumpang.
Baca Juga: Bukan Cuma Dibersihkan, Ini Waktu yang Tepat Ganti Filter AC Mobil!