Kontrak Fantastis, Agrinas Borong 105.000 Mobil India Buat Koperasi Merah Putih

By , Jumat, 20 Februari 2026 | 09:00 WIB

Ilustrasi Mahindra Scorpio Pick Up (Harun/GridOto.com)

Ia juga menilai pesanan sebanyak 35.000 unit ini melampaui total ekspor Mahindra pada tahun fiskal 2025, sehingga memberikan dorongan signifikan bagi ekspansi global perusahaan.

Di sisi lain, Tata Motors memperoleh kontrak 70.000 kendaraan komersial yang distribusinya akan dilakukan melalui anak perusahaannya di Indonesia, yakni PT Tata Motors Distribusi Indonesia, sebelum diserahkan kepada Agrinas.

Melansir Kontan.co.id, Direktur PT Tata Motors Distribusi Indonesia, Asif Shamim, menyebut kerja sama tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar internasional terhadap kendaraan komersial produksi India, termasuk ketangguhannya di berbagai kondisi operasional.

Menurut Tata Motors, proyek ini juga selaras dengan agenda pembangunan Indonesia, khususnya dalam meningkatkan konektivitas desa, memperlancar distribusi hasil pertanian, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pedesaan.

Baca Juga: Inilah Empat Kelebihan Suzuki Carry Pick Up Buat Usaha, Simak Harganya di Januari 2026

Sebelumnya, pada 5 Desember 2025, Agrinas bersama RMA Indonesia menyerahkan empat unit Mahindra Scorpio Double Cabin 4x4 kepada Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk membantu penanganan bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera.

Berdasarkan uji operasional, kendaraan tersebut dinilai mampu menghadapi medan berat sekaligus membawa logistik serta personel.

Namun demikian, sejumlah pihak memberikan catatan kritis. Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai proyek KDKMP berpotensi memunculkan dampak tertentu bagi desa dan pelaku usaha lokal.

Ia menyoroti pemangkasan lebih dari 58% dana desa untuk mendukung program tersebut, yang dinilai dapat mengurangi keleluasaan desa dalam menentukan prioritas pembangunan.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa impor kendaraan dalam jumlah besar berpotensi menyebabkan aliran dana keluar negeri serta membatasi peran industri otomotif nasional, terutama jika kebutuhan dan karakteristik tiap desa tidak sepenuhnya seragam.