Program ini juga dirancang untuk mengurangi praktik pembakaran terbuka jerami, yang selama ini menjadi salah satu sumber emisi dan polusi udara di wilayah pertanian.
Dalam implementasinya, Si Cadiak mengolah sekitar 894 ton jerami per tahun dan 864 ton kotoran ternak.
Limbah tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi kompos, bioetanol serta produk turunan lainnya, termasuk parfum jerami ramah lingkungan bernama Aruwa.
Selain itu, hasil pengelolaan limbah juga dimanfaatkan untuk mendukung Program Sawah Pokok Murah dan menghasilkan energi baru terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Energi tersebut digunakan untuk mendukung operasional Learning Center UKASEMA, yang menjadi pusat pembelajaran masyarakat terkait pengelolaan limbah dan pengembangan ekonomi lokal.
Program ini dilaporkan memberikan dampak lingkungan dan ekonomi bagi masyarakat setempat.
Dari sisi lingkungan, pengolahan limbah pertanian dan peternakan melalui program ini berkontribusi pada penurunan emisi hingga 1.305 ton CO2e per tahun.
Selain itu, program ini juga dikaitkan dengan penurunan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 80 persen dalam periode 2022 hingga 2025.
Baca Juga: Kangen Masa Itu, Pertamina Awal Masih Bernama Permina Dengan Logo Kuda Laut Kembar
Penurunan tersebut berkaitan dengan berkurangnya praktik pembakaran terbuka limbah jerami yang sebelumnya menjadi salah satu sumber polusi udara.
Dari sisi ekonomi, pengelolaan limbah produktif melalui Si Cadiak juga berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat.
Pertamina Patra Niaga mencatat pendapatan masyarakat meningkat hingga 63 persen melalui diversifikasi produk serta efisiensi biaya pertanian yang dihasilkan dari pemanfaatan limbah.
Program ini juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah, yang dapat dipasarkan oleh masyarakat setempat.