Pihak CV Makmur Raya, termasuk Agam Nasrudin, ayahnya, dan staf perusahaan, memutuskan untuk melacak Brio tersebut secara mandiri setelah mengetahui GPS pada mobil tersebut sebagian besar telah dimatikan.
Berbekal satu GPS yang masih aktif, mereka mengikuti pergerakan Brio yang sempat terdeteksi di Pandeglang, hingga akhirnya terlokalisir di rest area KM 45 Tol Tangerang-Merak.
Setibanya di lokasi, pihak rental mencoba mengambil kembali Honda Brio mereka.
Baca Juga: Penyewa Brio di Kasus Penembakan Bos Rental Terikat, Cara Main Terkuak
Namun, upaya ini memicu konflik antara pihak rental dan oknum TNI AL.
Situasi memanas hingga akhirnya terjadi penembakan yang menyebabkan salah satu pemilik rental tewas di tempat.
Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) TNI Angkatan Laut, Laksamana Madya Denih Hendrata pun mengakui prajuritnya tembak bos rental mobil di KM 45 tol Tangerang-Merak, (2/1/25).
Denih menyebutkan, dua dari tiga anggota TNI AL yang melakukan penembakan merupakan oknum anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska).
"Tiga orang itu, dua dari Kopaska Koarmada I, satu dari KRI Bontang," kata Denih dalam konferensi pers di Jakarta, (6/1/25) menukil Kompas.com.
Ia menjelaskan, insiden tersebut berawal dari persoalan pembelian mobil bodong.
Dalam insiden tersebut, ia mengakui bahwa ada anggota yang melakukan penembakan.
Baca Juga: Perintah Panglima TNI, Anggotanya yang Terlibat Penembakan Bos Rental Harus Terima Ini