Mobil diwacanakan maksimum 2.000 cc dan motor 250 cc. Namun sekali lagi ini masih wacana.
Semoga saja usulan ini tak sampai terjadi.
Bayangkan saja saat ini sudah banyak mobil-mobil Eropa seperti Mercedes-Benz dan BMW bermesin 1.500 cc.
Tentu kurang tepat bila mobil-mobil berharga miliaran rupiah tersebut menikmati BBM subsidi.
Apalagi tidak pernah ada kapasitas isi silinder yang bulat 2.000 cc.
Adanya selalu ganjil seperti 1.998 cc atau 1.997 cc.
Lantas ada pula yang mengusulkan seleksi penerima BBM subisidi berdasarkan rasio kompresi mesin.
Ini juga sulit dilakukan. Nyatanya saat ini mesin-mesin rasio kompresi tinggi sanggup pula meminum BBM oktan rendah.
Contohnya mesin Skyactiv buatan Mazda.
Saat kunjungan ke markas Mazda di Hiroshima, Jepang beberapa tahun lalu, mereka meyakinkan mesin Skyactiv tak perlu oktan tinggi meskipun rasio kompresinya mencapai 13:1.
Di teknologi mesin konvensional, rasio setinggi ini sewajarnya wajib meminum bensin oktan minimal 98.
Lewat rekayasa desain ruang bakar, Skyactiv Mazda mampu bekerja hanya dengan bensin oktan 90 saja atau Pertalite.