Faktor yang kedua, karena dinilai street circuit yang akan dipentas di MotoGP Mandalika ini menjadi pioneer di MotoGP.
"Indonesia menjadi yang pertama, itu menjadi pioneer kan bagus pasti, satu-satunya di MotoGP yang pioneer, itu yang saya kejar," tambah pria yang senang memakai batik itu.
Dan faktor yang ketiga adalah tentang efisiensi.
Baca Juga : Marshal MotoGP Argentina yang Bajak Motor Valentino Rossi Ternyata Sopir Mobil Ambulans
"Karena sebagai pengelola kawasan, jika ada stadion yang sepanjang tahun tidak terpakai, buat kami menjadi sayang. Karena ini (tempat) indah sekali, di dekat pantai," jelas Abdulbar.
Nantinya jika sirkuit ini tidak dipakai dalam waktu satu tahun ke depan, maka bisa dipakai untuk kegiatan pariwisata seperti biasa.
"Jadi masalah cost itu kalau dibilang kita enggak kuat bikin stadion (srikuit permanen), ya enggak juga. Karena yang bangun bukan kita loh, tetapi Vinci (investor)," timpalnya.
"Vinci menyediakan Rp 14 triliun. Dia kalau kita arahkan stadion, dia juga kuat. Tapi pertimbangan kita berdua, selaku pemilik tanah dan juga selaku penyewa tanah (investor), street race akan lebih efisien dan lebih indah," ujar Abdulbar yang suka olahraga.
Baca Juga : Marc Marquez Bermimpi Bisa Berduet dengan Sang Adik di Kelas MotoGP
Maka itu, ketika GridOto.com dan OtoRace.id tanyakan mengenai perbandingan biaya tentang sirkuit permanen dan street circuit apakah sudah diperbandingkan sebelumnya, Abdulbar pun bilang tidak ada.
"Dari awal sudah street circuit visinya, karena saya bukan pemain otomotif, saya adalah pengembang pariwisata," bilangnya.
Nah, street circuit ini menurutnya lebih masuk akal dari sisi pariwisata.